Pembicaraan seputar kecerdasan buatan (AI) sering kali dimulai dengan teknologi, namun Jordan Morrow, pendiri Bodhi Data, mengajak untuk memulainya dengan manusia. Menurutnya, AI bukanlah topik yang hanya boleh dibahas di ruangan khusus atau dengan bahasa teknis. “Pergeseran sesungguhnya terjadi ketika orang menyadari bahwa mereka memiliki tempat di meja data berserta AI dan bahwa mereka diizinkan untuk mempertanyakan apa yang disajikan kepada mereka,” ujarnya. Kesadaran itu membuka pintu bagi keterlibatan yang lebih luas dan tanggung jawab bersama.

Morrow membingkai perspektif ini dalam konteks lingkungan yang dinavigasi orang saat ini. “Informasi datang terus-menerus, seringkali tanpa penjelasan atau konteks,” ia berbagi. “Judul berita beredar dengan cepat, keluaran otomatis tampak otoritatif, dan alat digital memengaruhi pilihan, baik besar maupun kecil.” Dalam pidato TEDx-nya, ia mengeksplorasi bagaimana orang merespons arus ini, bertanya bagaimana mereka dapat mengevaluasi apa yang mereka lihat dan memutuskan apa yang harus dipercaya. Jawabannya berpusat pada literasi data sebagai keterampilan manusia yang praktis, cara berpikir yang membantu orang menafsirkan informasi, mengenali pola, dan berhenti sejenak untuk mengajukan pertanyaan yang bermakna sebelum bertindak.

Membangun observasi ini, Morrow menekankan pengembangan praktis literasi data dan AI dalam kehidupan sehari-hari. Ini melibatkan kenyamanan dalam membaca data, memeriksa mengapa data terlihat seperti itu, dan membentuk sudut pandang yang beralasan. Kemampuan ini ada di banyak tingkatan dan dapat berkembang. “Orang tidak membutuhkan pelatihan teknis mendalam untuk memulai,” ia menekankan. “Mereka membutuhkan keakraban, rasa ingin tahu, dan kepercayaan diri untuk terlibat.” Tulisannya mencerminkan filosofi ini.

Dalam Be Data Literate, Morrow menyajikan literasi data dan AI sebagai kemampuan penting untuk kehidupan modern, yang berakar pada rasa ingin tahu, penilaian, dan komunikasi. Buku ini ditujukan bagi pembaca dari berbagai peran dan pengalaman, menekankan bahwa literasi memperkuat agensi daripada menuntut spesialisasi. Karya-karyanya yang lain memperluas percakapan ke analitika, pengambilan keputusan, dan budaya organisasi, masing-masing menegaskan bahwa data hanya menjadi berharga melalui interpretasi manusia. Bukunya yang akan datang memperluas ide-ide ini melalui konsep kecerdasan terencana (engineered intelligence), yang mengintegrasikan data, AI, penalaran intelektual, dan kesadaran emosional ke dalam pendekatan terpadu untuk kemajuan dan pemecahan masalah.

Dalam pidato dan tulisannya, Morrow kembali pada serangkaian keterampilan yang konsisten yang mendukung keterlibatan yang bermakna. “Rasa ingin tahu mendorong orang untuk bertanya mengapa informasi muncul seperti itu,” ujarnya. “Kreativitas memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi penjelasan dan kemungkinan alternatif.” Kualitas-kualitas ini memberi orang cara untuk berpartisipasi tanpa merasa kewalahan. Morrow telah mengamati bahwa kemampuan ini datang secara alami di awal kehidupan dan dapat diperkuat kembali melalui latihan. Karyanya mengajak orang untuk memperlakukan pembelajaran sebagai proses yang berkelanjutan daripada tujuan yang terbatas.

Pendekatan ini juga membentuk bagaimana ia berbicara tentang belajar bersama AI. Daripada menunggu pemahaman yang lengkap, Morrow mendorong eksplorasi dan refleksi. Ia mencatat bahwa orang belajar dengan bereksperimen, mengamati hasil, dan menyesuaikan pertanyaan mereka. Intuisi memainkan peran penting di sini, membantu individu merasakan ketika suatu keluaran terasa tidak lengkap atau ketika konteks tambahan diperlukan. “AI dapat merespons dengan cepat,” kata Morrow, “tetapi manusia yang memutuskan apa yang pantas mendapat perhatian.” Perbedaan itu memperkuat peran berkelanjutan penilaian manusia dalam lingkungan otomatis.

Dalam organisasi, cara berpikir ini memengaruhi bagaimana dampak dipahami. AI sering kali memengaruhi bagaimana tim berpikir, berkolaborasi, dan bergerak dari ide menjadi tindakan. Beberapa nilainya muncul dalam percakapan yang lebih jelas, pertanyaan yang lebih kuat, dan peningkatan kepercayaan diri di seluruh peran. Meskipun hasil dapat diukur dengan berbagai cara, perspektif Morrow menyoroti pentingnya mengakui keterlibatan manusia sebagai bagian dari kemajuan. Ketika orang memahami cara bekerja dengan AI, mereka dapat berkontribusi lebih penuh pada keputusan yang membentuk pekerjaan dan komunitas mereka.

AI terus memengaruhi bagaimana dunia berkembang, memengaruhi industri, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari. Arah pengaruh itu, menurut Morrow, bergantung pada pilihan manusia. “Alat memperluas kemampuan, sementara manusia memberikan makna dan arah,” ujarnya. “Ketika AI diperlakukan sebagai bagian dari seperangkat alat manusia yang lebih luas, ia dapat menjadi sumber kemajuan.” Melalui pidato, tulisan, dan karyanya di Bodhi Data, Morrow tetap menjadi advokat untuk partisipasi inklusif dan masa depan yang dibentuk oleh keterlibatan manusia yang terinformasi.

 

sumber: ibtimes.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *